ㅤㅤㅤDosen tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pembimbing, tetapi juga sebagai peneliti serta agen perubahan bagi masyarakat. Keberhasilan Tri Dharma Perguruan Tinggi sangat dipengaruhi oleh kualitas dan karakteristik dosen itu sendiri. Profil dosen menjadi cerminan kapasitas akademik dan profesionalnya, sehingga penting untuk melihat kontribusi nyata mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan.
ㅤㅤㅤPada kesempatan ini, Ni Ketut Bagiastuti, S.H., M.H., hadir sebagai narasumber. Beliau merupakan Pembimbing Kemahasiswaan sekaligus Koordinator Program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) Manajemen Bisnis Pariwisata. Melalui latar belakang dan pengalaman yang dimiliki, beliau dinilai tepat untuk berbagi wawasan mengenai daya tarik pariwisata Bali, peluang karier, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam industri pariwisata.
ㅤㅤㅤ“Sebagai warga Bali, saya tidak bisa memisahkan pariwisata dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Menurutnya, upacara adat, gamelan, dan penjor bukan sekadar atraksi bagi wisatawan, melainkan bagian dari identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat. Keaslian budaya tersebut menjadi daya tarik yang membuat wisatawan terus datang kembali.
ㅤㅤㅤNamun, beliau juga mengingatkan bahwa ketika pariwisata tumbuh terlalu cepat tanpa pengelolaan yang bijak, Bali dapat kehilangan hal-hal yang membuatnya istimewa. Oleh karena itu, peran pelaku pariwisata sangat penting dalam menjaga nilai-nilai yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Pada titik inilah peran pendidikan, khususnya program RPL, menjadi sangat krusial.
ㅤㅤㅤMenjelaskan program RPL, beliau menyampaikan bahwa program tersebut menjadi jembatan antara pengalaman praktik di lapangan dengan teori akademik. Mahasiswa RPL umumnya merupakan profesional aktif yang telah memiliki pengalaman kerja. Karena itu, perguruan tinggi berperan memberikan kerangka teoretis yang sistematis untuk memperkuat kompetensi yang telah dimiliki.
ㅤㅤㅤMenurutnya, kurikulum vokasi saat ini cukup efektif, terutama dengan menghadirkan alumni sebagai dosen industri bagi mahasiswa reguler. Sebagai Koordinator RPL, beliau juga memastikan seluruh proses pembelajaran berjalan sesuai standar mutu yang telah ditetapkan.
ㅤㅤㅤBeliau menambahkan bahwa terdapat kemampuan penting yang tidak selalu diperoleh melalui buku teks, yaitu kemampuan membaca kebutuhan tamu secara intuitif. Kemampuan tersebut lahir dari pengalaman kerja dan interaksi langsung dengan tamu dari berbagai latar belakang budaya. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman SOP, tetapi juga kemampuan untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan.
ㅤㅤㅤSelama hampir delapan tahun mendampingi mahasiswa, beliau mengidentifikasi tiga soft skills yang paling menentukan keberhasilan di industri pariwisata, yaitu kemampuan beradaptasi, kecerdasan emosional, dan komunikasi lintas budaya. Menurutnya, tamu dapat merasakan ketulusan pelayanan yang diberikan melalui ketiga kemampuan tersebut.
ㅤㅤㅤMeskipun demikian, beliau mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, seperti kesenjangan antara teori dan praktik serta belum meratanya fasilitas pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Selain itu, persepsi masyarakat yang masih memandang rendah lulusan vokasi juga perlu diubah. Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, beliau tetap optimis. “Di PNB, kami terus berupaya menjadi contoh bahwa program RPL dapat diselenggarakan dengan standar mutu yang tinggi,” tutupnya. (tha, gyt, ode)
ㅤㅤㅤMahasiswa pariwisata kini tidak hanya belajar teori di kelas. Sejak...
ㅤㅤㅤSeiring pesatnya perkembangan industri pariwisata, mahasiswa jurusan perhotelan tidak hanya...
ㅤㅤㅤDosen tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pembimbing, tetapi juga...
ㅤㅤㅤJam belum menunjukkan angka delapan ketika mesin espresso mulai berdesir....
ㅤㅤㅤPoliteknik Negeri Bali (PNB) sukses menggelar PNB EXPO 2026 sebagai...
ㅤㅤㅤDi tengah berkembangnya industri pariwisata Bali, muncul fenomena yang kian...
ㅤㅤㅤDi tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata yang menjadi salah satu...
ㅤㅤㅤ“Film ini tidak mengajak kita menangis. Ia mengajak kita untuk...
ㅤㅤㅤDosen tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pembimbing, tetapi juga sebagai peneliti serta agen perubahan bagi masyarakat. Keberhasilan Tri Dharma Perguruan Tinggi sangat dipengaruhi oleh kualitas dan karakteristik dosen itu sendiri. Profil dosen menjadi cerminan kapasitas akademik dan profesionalnya, sehingga penting untuk melihat kontribusi nyata mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan.
ㅤㅤㅤPada kesempatan ini, Ni Ketut Bagiastuti, S.H., M.H., hadir sebagai narasumber. Beliau merupakan Pembimbing Kemahasiswaan sekaligus Koordinator Program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) Manajemen Bisnis Pariwisata. Melalui latar belakang dan pengalaman yang dimiliki, beliau dinilai tepat untuk berbagi wawasan mengenai daya tarik pariwisata Bali, peluang karier, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam industri pariwisata.
ㅤㅤㅤ“Sebagai warga Bali, saya tidak bisa memisahkan pariwisata dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Menurutnya, upacara adat, gamelan, dan penjor bukan sekadar atraksi bagi wisatawan, melainkan bagian dari identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat. Keaslian budaya tersebut menjadi daya tarik yang membuat wisatawan terus datang kembali.
ㅤㅤㅤNamun, beliau juga mengingatkan bahwa ketika pariwisata tumbuh terlalu cepat tanpa pengelolaan yang bijak, Bali dapat kehilangan hal-hal yang membuatnya istimewa. Oleh karena itu, peran pelaku pariwisata sangat penting dalam menjaga nilai-nilai yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Pada titik inilah peran pendidikan, khususnya program RPL, menjadi sangat krusial.
ㅤㅤㅤMenjelaskan program RPL, beliau menyampaikan bahwa program tersebut menjadi jembatan antara pengalaman praktik di lapangan dengan teori akademik. Mahasiswa RPL umumnya merupakan profesional aktif yang telah memiliki pengalaman kerja. Karena itu, perguruan tinggi berperan memberikan kerangka teoretis yang sistematis untuk memperkuat kompetensi yang telah dimiliki.
ㅤㅤㅤMenurutnya, kurikulum vokasi saat ini cukup efektif, terutama dengan menghadirkan alumni sebagai dosen industri bagi mahasiswa reguler. Sebagai Koordinator RPL, beliau juga memastikan seluruh proses pembelajaran berjalan sesuai standar mutu yang telah ditetapkan.
ㅤㅤㅤBeliau menambahkan bahwa terdapat kemampuan penting yang tidak selalu diperoleh melalui buku teks, yaitu kemampuan membaca kebutuhan tamu secara intuitif. Kemampuan tersebut lahir dari pengalaman kerja dan interaksi langsung dengan tamu dari berbagai latar belakang budaya. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman SOP, tetapi juga kemampuan untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan.
ㅤㅤㅤSelama hampir delapan tahun mendampingi mahasiswa, beliau mengidentifikasi tiga soft skills yang paling menentukan keberhasilan di industri pariwisata, yaitu kemampuan beradaptasi, kecerdasan emosional, dan komunikasi lintas budaya. Menurutnya, tamu dapat merasakan ketulusan pelayanan yang diberikan melalui ketiga kemampuan tersebut.
ㅤㅤㅤMeskipun demikian, beliau mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, seperti kesenjangan antara teori dan praktik serta belum meratanya fasilitas pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Selain itu, persepsi masyarakat yang masih memandang rendah lulusan vokasi juga perlu diubah. Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, beliau tetap optimis. “Di PNB, kami terus berupaya menjadi contoh bahwa program RPL dapat diselenggarakan dengan standar mutu yang tinggi,” tutupnya. (tha, gyt, ode)
Ini adalah edisi terbaru kami,
Mari jelajahi setiap halaman penuh arti!