E-Mandiri

Feature

Aroma Coffee dan Deadline: Cerita di Balik Kesibukan Mahasiswa Pariwisata

26 Jun 2026

ㅤㅤㅤJam belum menunjukkan angka delapan ketika mesin espresso mulai berdesir. Di balik counter Fore Coffee, sepasang tangan bergerak gesit menata cangkir, memeriksa pesanan, lalu mengangguk sopan kepada pelanggan pertama hari itu. Aroma biji kopi yang baru digiling menguar ke udara, bercampur dengan deru AC dan riuh pagi kota Denpasar. Hanya beberapa jam kemudian, tangan yang sama itu akan membuka laptop, mengetik laporan kuliah, dan mengoordinasikan jadwal kelompok lewat pesan grup yang tak pernah sepi.

ㅤㅤㅤItulah keseharian Ketut Abhista Sabala Wiryamanta. Mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali (PNB) yang menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai barista profesional di Fore Coffee dan koordinator tingkat di kelasnya. Di Bali yang tidak pernah berhenti berdenyut karena pariwisata, kisah Abhista adalah cermin paling hidup dari tema edisi perdana ini.

ㅤㅤㅤPilihan masuk ke jurusan pariwisata bukan keputusan yang lahir tanpa alasan. Abhista melihat industri ini tumbuh pesat, khususnya di Bali, dengan peluang kerja yang terbuka lebar. Setelah berhasil masuk PNB melalui jalur SNBT, ia datang bukan hanya membawa tas ransel dan buku catatan, melainkan juga dengan rencana yang sudah ia susun matang, yaitu kuliah sambil bekerja.

ㅤㅤㅤ“Kalau mau benar-benar siap memasuki dunia kerja, saya harus sudah mengenal realitanya sejak dini. Dengan bekerja lebih awal, saat training nanti saya tidak kaget, sudah terbiasa bersosialisasi, dan sudah punya pemahaman tentang budaya kerja,” ungkap Abhista. 

ㅤㅤㅤPerjalanannya di dunia kopi dimulai bahkan sebelum duduk di bangku kuliah. Setelah lulus SMA, ia langsung bekerja di Shihlin. Memasuki masa kuliah, ia beralih ke Imadji selama enam bulan, sebelum akhirnya menemukan rumahnya di Fore Coffee yang menjadi suatu peluang baik dan langsung diambilnya tanpa ragu.

ㅤㅤㅤTiga bulan pertama menjadi masa ujian paling berat. Tanggung jawab sebagai koordinator tingkat, tumpukan tugas kuliah, kepanitiaan kampus, dan jadwal shift hadir serentak, seolah semuanya menuntut perhatian dalam waktu yang bersamaan. Namun Abhista menemukan ritmenya sendiri dengan disiplin memisahkan fokus. Saat di balik counter, ia sepenuhnya menjadi barista. Saat di kelas, ia sepenuhnya menjadi mahasiswa. Fore Coffee pun mendukung kondisinya, setiap karyawan diperbolehkan menuliskan seluruh jadwal kesibukan pribadi, dan pihak manajemen akan menyusun shift berdasarkan data tersebut

ㅤㅤㅤTantangan paling nyata yang menyertai perjalanan itu ternyata bukan soal akademik, melainkan rasa kantuk. Jam tidur tersita oleh ritme yang padat. Abhista mengatasinya dengan memaksimalkan kualitas istirahat di setiap celah waktu yang ada, sembari aktif berkoordinasi dengan teman-teman kelompok untuk menyelesaikan tugas video yang tidak dapat dikerjakan sendiri. 

ㅤㅤㅤDi balik counter kopi, Abhista justru menemukan laboratorium hospitality paling nyata yang pernah ia masuki. Berhadapan setiap hari dengan pelanggan yang beragam karakternya ada yang ramah, ada yang pendiam, ada pula yang datang dengan ekspresi kurang bersahabat memberinya pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen yang tidak bisa ia dapatkan hanya dari buku teks atau ruang kelas. Baginya, kopi dan pariwisata bergerak di atas fondasi yang sama, yakni pelayanan yang tulus kepada setiap orang yang datang.

ㅤㅤㅤYang mengejutkan, pekerjaan ini justru tidak mengganggu nilai akademiknya. Kekhawatiran orang tua Abhista yang sempat keberatan di awal pun terbantahkan satu per satu. “Bekerja membuat saya lebih terlatih dalam mengatur waktu dan lebih menghargai setiap kesempatan belajar yang ada,” ujarnya. 

ㅤㅤㅤDi penghujung obrolan, Abhista menitipkan kalimat sederhana namun penuh makna kepada sesama mahasiswa PNB yang sedang atau akan menjalani perjalanan serupa. “Semangat terus. Ingat selalu tujuan awal dan niat yang membawa kamu ke sini, karena itulah yang akan terus menggerakkanmu menuju masa depan yang lebih baik.”

ㅤㅤㅤDi Bali yang terus berdenyut bersama industri pariwisatanya, Abhista membuktikan bahwa bekerja dan kegiatan perkuliahan bisa hadir dalam satu napas yang sama. Jika dijalani dengan niat yang tulus, akan mampu membentuk seseorang menjadi jauh lebih dari sekadar mahasiswa atau pekerja biasa. (sya, jvn, uti, rja)

Daftar Komentar

Saputra

Menginspirasi banget!!

siapa ya

woww wibu

Beri Komentar

*Email anda tidak akan kami tampilkan

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved