E-Mandiri

Resensi Film

Surat untuk Masa Mudaku

27 Jun 2026

ㅤㅤㅤ“Film ini tidak mengajak kita menangis. Ia mengajak kita untuk duduk diam. Lalu bertanya, luka mana yang selama ini berusaha kita anggap tidak ada?” 

ㅤㅤㅤSurat untuk Masa Mudaku yang tayang di Netflix sejak 29 Januari 2026 adalah film coming-of-age garapan sutradara Sim F dengan Wilza Lubis sebagai produser. Dibintangi Fendy Chow, Agus Wibowo, dan Millo Taslim, film berdurasi 2 jam 15 menit yang diproduksi oleh Buddy-Buddy Pictures ini hadir dengan premis yang sederhana, namun mampu menggali sesuatu yang tidak sesederhana kelihatannya. 

ㅤㅤㅤKefas dewasa yang diperankan Fendy Chow tampak punya segalanya. Rumah bagus, karier impian, keluarga kecil yang bahagia. Semuanya tampak baik-baik saja hingga sebuah panggilan meruntuhkan kesempurnaan yang selama ini ia bangun. Kabar kematian Pak Simon (Agus Wibowo), pengurus panti asuhan tempatnya tumbuh besar memaksanya pulang. Dan pulang disini bukan soal jarak. Kembalinya Kefas ke Panti Asuhan Pelita Kasih membangkitkan satu per satu kenangan yang telah lama ia kubur. 

ㅤㅤㅤDi panti asuhan itulah masa lalu kembali menyambutnya. Lewat kilas balik, kita diperkenalkan dengan Kefas remaja yang diperankan oleh Millo Taslim. Disana, Kefas digambarkan sebagai sosok kakak bagi anak-anak di panti, namun juga anak yang paling nakal, keras kepala, dan susah diatur. Hubungannya dengan Pak Simon juga cukup rumit. Tidak dapat disebut musuh, tapi juga bukan kedamaian. Hanya dua orang yang sama-sama terluka dan tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan lukanya. 

ㅤㅤㅤAgus Wibowo melalui matanya berbicara lebih banyak dari dialognya. Pak Simon bukan sekadar dibawakan menjadi sosok figur yang baik hati, melainkan manusia yang kelelahan, yang menyayangi dengan cara yang tidak selalu bisa dibaca oleh orang-orang sekitarnya. Millo Taslim butuh beberapa menit untuk benar-benar hidup sebagai Kefas remaja. Ada sedikit kekakuan yang cukup terasa di awal. Namun, begitu masuk ke adegan-adegan yang lebih berat, ia seolah tenggelam dalam luka karakter yang ia bawakan. 

ㅤㅤㅤFilm ini juga tahu betul cara membangun suasana. Dua lini waktu yang jalan beriringan dibedakan lewat palet warna yang kontras, masa kini dengan palet warna dingin kebiruan, dan kilas balik masa lalu yang hangat seperti foto lama yang tersimpan rapat di dalam laci. Musik pengiringnya pun tidak mencoba mendramatisasi, melainkan hanya menemani, dan justru itu yang membuatnya terasa lengkap. 

ㅤㅤㅤPada akhirnya, film ini bukan tentang Kefas. Film ini tentang siapa saja yang pernah menyimpan luka dan memilih diam. Jika kamu pernah merasa ada bagian dari masa lalumu yang belum benar-benar selesai, film ini mungkin bukan hiburan yang kamu butuhkan, melainkan percakapan yang selama ini kamu hindari. (grc)

Daftar Komentar

Beri Komentar

*Email anda tidak akan kami tampilkan

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved