E-Mandiri

Kata Mahasiswa

Mahasiswa di Jantung Wisata : Ketika Fokus Berhadapan dengan Distraksi

27 Jun 2026

ㅤㅤㅤDi tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian, kebutuhan akan sumber daya manusia yang profesional dan berdaya saing semakin meningkat. Kondisi tersebut tentu menjadikan pendidikan sebagai fokus utama dalam mencetak generasi unggul dan berkarakter yang mampu bersaing dalam dinamika industri yang terus berkembang. Menempuh pendidikan di lingkungan pariwisata tidak hanya memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan di bidang kepariwisataan, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa agar memiliki jiwa pelayanan, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, serta kepekaan terhadap keberagaman budaya. Dengan lingkungan belajar yang berorientasi pada praktik dan industri, mahasiswa dipersiapkan untuk mampu menghadapi tantangan dunia kerja sekaligus berkontribusi dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

ㅤㅤㅤBagi Ni Komang Bintang Cahyani Mahadewi, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi, lingkungan pariwisata bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Di satu sisi, lingkungan ini memberikan banyak peluang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, membangun relasi, serta memperoleh pengalaman nyata di lapangan. Di sisi lain, lingkungan yang dinamis berpotensi menjadi distraksi yang mengganggu fokus akademik, terutama jika mahasiswa tidak memiliki kontrol diri dan manajemen waktu yang baik.

ㅤㅤㅤMenurutnya, mahasiswa yang berada di lingkungan pariwisata cenderung memiliki pola pikir yang lebih adaptif dan komunikatif. Hal ini didorong oleh intensitas interaksi dengan berbagai kalangan, termasuk wisatawan dari berbagai latar belakang. Kondisi tersebut menjadi nilai tambah karena mampu membentuk wawasan yang lebih luas serta kemampuan berkomunikasi yang lebih baik.

ㅤㅤㅤDari sisi akademik, ia menilai bahwa lingkungan pariwisata cukup relevan dengan berbagai jurusan, khususnya di bidang bisnis dan akuntansi. Lingkungan tersebut mampu menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk memahami praktik di lapangan secara langsung, meski tetap harus disesuaikan dengan bidang masing-masing.

ㅤㅤㅤIa juga menegaskan bahwa menikmati masa muda dan menjaga fokus akademik bukanlah dua hal yang mesti dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama mahasiswa mampu mengatur prioritas dan waktu dengan baik. Sebagai Ketua HMJ, ia berusaha membagi waktu antara akademik, organisasi, dan kehidupan sosial secara seimbang.

ㅤㅤㅤIa menyoroti tantangan berupa distraksi dan tekanan gaya hidup di lingkungan pariwisata. Oleh karena itu, mahasiswa untuk memiliki tujuan yang jelas, memilih lingkungan pergaulan yang positif, serta aktif dalam kegiatan yang produktif.

ㅤㅤㅤPada akhirnya, ia menekankan bahwa kontrol diri adalah kunci utama. Lingkungan hanyalah faktor eksternal, sedangkan keberhasilan tetap ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengelola diri dan menjaga arah tujuan.

ㅤㅤㅤBagi I Gede Aditya Bimantara, Jimbaran bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga ruang belajar yang membentuk jati dirinya. Tumbuh di tengah pariwisata Bali, mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Bali (PNB) ini memandang eratnya keterkaitan antara teknologi dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari yang terus berkembang secara dinamis.

ㅤㅤㅤLingkungan kampus yang dikelilingi kawasan wisata memberinya pengalaman berbeda yang tidak semua mahasiswa rasakan. Ia menyebut lokasi tersebut sebagai “bonus” karena memberikan akses yang mudah untuk beristirahat sejenak, seperti menikmati pantai dan sunset. Namun, ia menegaskan bahwa kontrol diri tetap menjadi hal utama. Menurutnya, waktu rehat bukanlah pelarian, melainkan cara untuk menyegarkan pikiran agar fokus belajar dapat kembali meningkat secara optimal dan tetap terjaga konsistensinya.

ㅤㅤㅤIa juga melihat relevansi kuat antara bidang studinya dan lingkungan pariwisata. Menurutnya, pariwisata modern sangat bergantung pada teknologi, mulai dari sistem ticketing hingga strategi promosi digital yang semakin berkembang pesat. Pandangan tersebut ia buktikan melalui pembelajaran berbasis proyek, salah satunya pengembangan sistem pemesanan air isi ulang berbasis web yang mendukung gaya hidup ramah lingkungan di kawasan wisata.

ㅤㅤㅤMeski penuh peluang, tinggal di kawasan internasional menghadirkan tantangan tersendiri. Kemampuan berbahasa asing menjadi kebutuhan penting di samping kewaspadaan terhadap pengaruh budaya luar yang masuk. Ia percaya bahwa tanpa filter diri yang kuat, nilai-nilai lokal dapat tergerus.

ㅤㅤㅤBaginya, masa kuliah merupakan proses menemukan arah hidup dan jati diri. Pada akhirnya, menjadi mahasiswa di lingkungan pariwisata adalah tentang kemampuan mengelola diri, memilih pengaruh, dan melangkah dengan penuh kesadaran serta tanggung jawab.

ㅤㅤㅤBerdampingan dengan pariwisata, hal menyenangkan dan menantang setidaknya bagi I Komang Aditya Putra Dinata, Ketua Umum Himpunan Jurusan Teknik Elektro. Bergelut dengan pariwisata berarti siap melihat dan memahami fenomena yang terjadi dari berbagai sudut pandang. Menurutnya, dunia pariwisata seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi hal tersebut justru akan membuka akses peluang yang besar bagi masyarakat lokal dalam  membangun  kolaborasi lintas budaya maupun meningkatkan potensi ekonomi. 

ㅤㅤㅤSebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di kawasan pariwisata, ia melihat peluang yang cukup baik dan relevan dengan bidang yang ditekuninya. Hal tersebut erat kaitannya dengan kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan masalah teknis dalam mekanikal dan elektrikal baik untuk personal maupun kepentingan bisnis usaha pariwisata. Sehingga, besar potensi bagi mahasiswa terkhususnya jurusan Elektro dapat mengambil peranan nyata di tengah masyarakat. 

ㅤㅤㅤDengan banyaknya peluang dan kesempatan yang ada, masih terdapat sisi yang tidak dapat diabaikan. Kendala-kendala yang tidak dapat dihindari seperti kemacetan akibat berada di daerah padat wisatawan terkadang sedikit menghambat kegiatan. Selain itu, hal mengganggu lainnya seperti masalah sampah, masih belum terorganisir dengan baik yang menjadi menurunkan nilai citra kawasan. Tentunya ia sangat menantikan adanya kebijakan pemerintah untuk menanggulangi permasalahan tersebut. 

ㅤㅤㅤMenjalani perkuliahan terasa cukup menyenangkan sebab ditengah padatnya jadwal kuliah masih terdapat selah untuk beristirahat dan rekreasi sejenak. Hal itu tentu membantu membangkitkan kembali semangat dalam menempuh pendidikan. Namun, kemudahan ini juga menyimpan potensi distraksi apabila mahasiswa terlalu terlena yang mengakibatkan kewajiban utama sebagai mahasiswa terabaikan. Oleh karena itu, menjaga batasan merupakan hal yang penting dengan tetap berpegang teguh pada tujuan utama diri dalam menempuh pendidikan.

ㅤㅤㅤPada akhirnya, menemukan keseimbangan ialah hal terpenting sebagai mahasiswa. Mahasiswa perlu memahami cara memanfaatkan peluang, menikmati dinamika, dan menjaga batasan serta memastikan fokus pada tujuan utama. Karena di tengah riuhnya pariwisata, mahasiswa memiliki peran utama yaitu mempersiapkan diri menjadi generasi yang cerdas dan bertanggung jawab. 

ㅤㅤㅤHidup di lingkungan pariwisata kerap dianggap sebagai “pisau bermata dua”. Di satu sisi menawarkan peluang, warna, dan jaringan luas, namun di sisi lain juga berpotensi mengganggu fokus akademik. I Kadek Fendi Pramana Rajasa, mahasiswa D4 Manajemen Proyek Konstruksi Teknik Sipil, justru melihatnya dari sudut pandang yang lebih positif.

ㅤㅤㅤMenurutnya, pariwisata menjadi katalis yang memperkaya pengalaman belajar. Ia menilai dampaknya tidak hanya dirasakan jurusan pariwisata, tetapi juga teknik sipil. Geliat industri wisata mendorong pembangunan villa, hotel, hingga restoran, yang membuka peluang bagi mahasiswa untuk melihat langsung penerapan ilmu di lapangan. Selain itu, interaksi dengan klien mancanegara turut memperluas perspektif, termasuk dalam desain dan standar pembangunan.

ㅤㅤㅤTinggal di kawasan wisata juga menghadirkan dinamika tersendiri. Akses ke tempat rekreasi yang dekat sering dianggap mengganggu, namun bagi Fendi hal itu kembali pada kontrol diri. Ia berpendapat bahwa menikmati waktu luang tetap boleh dilakukan selama tidak berlebihan dan tetap memahami prioritas utama.

ㅤㅤㅤIa juga meyakini bahwa menikmati masa muda dan menjaga akademik dapat berjalan beriringan melalui manajemen waktu yang baik. Kehidupan di Bali tidak hanya tentang pariwisata, tetapi juga aktivitas sosial seperti banjar yang memperkaya pengalaman mahasiswa.

ㅤㅤㅤMeski demikian, tantangan seperti kemacetan tetap ada. Namun, ia tetap optimis. Baginya, kunci utama adalah kontrol diri agar tetap fokus, menjaga tujuan, dan menjalani peran sebagai mahasiswa secara seimbang.

ㅤㅤㅤBagi I Ketut Agus Wedananta, atau Kak Weda, kehidupan kampus di kawasan pariwisata bukan sekadar pengalaman, melainkan peluang. Sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Administrasi Bisnis, ia melihat langsung bagaimana industri wisata memberi warna bagi mahasiswa.

ㅤㅤㅤMenurutnya, lingkungan pariwisata ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, hadir peluang ekonomi seperti kerja sebagai daily worker yang memberi penghasilan tambahan sekaligus pengalaman profesional awal. Namun di sisi lain, dinamika tersebut juga dapat menjadi distraksi jika tidak disikapi dengan bijak.

ㅤㅤㅤIa menilai kualitas mahasiswa tidak ditentukan oleh lingkungan, tetapi oleh bagaimana individu mengelola diri. Meski begitu, mahasiswa di kawasan wisata memiliki keunggulan berupa peluang lebih besar untuk terekspos dan mengembangkan potensi diri, termasuk kemampuan komunikasi dengan wisatawan mancanegara.

ㅤㅤㅤDari sisi akademik, keterkaitan Administrasi Bisnis dengan pariwisata sangat kuat. Interaksi langsung dengan turis asing menjadi “kelas tambahan” yang memperkaya pembelajaran, terutama dalam penerapan English for Business dan English for Tourism secara nyata.

ㅤㅤㅤDi tengah berbagai peluang, menjaga keseimbangan tetap penting. Akses ke destinasi wisata dapat menjadi sarana melepas penat, tetapi harus tetap terencana. Selain itu, tantangan seperti kemacetan dan dampak overtourism juga menjadi realitas yang dihadapi.

ㅤㅤㅤPada akhirnya, Kak Weda menegaskan bahwa kontrol diri adalah kunci utama. Dengan memahami tujuan awal, mahasiswa dapat memilah prioritas dan mengelola peluang secara bijak.

ㅤㅤㅤBagi Stepanus Hadyan Putra, atau Kak Evan, menempuh pendidikan di Bali bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya. Sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Pariwisata, ia merasakan langsung bagaimana lingkungan pariwisata membentuk cara pandangnya.

ㅤㅤㅤMenurutnya, lingkungan pariwisata ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia memberi banyak manfaat, seperti akses mudah ke destinasi wisata yang dapat menjadi sarana melepas penat. Namun di sisi lain, jika tidak dikelola dengan baik, hal tersebut juga bisa menjadi distraksi yang mengganggu fokus akademik.

ㅤㅤㅤIa menilai keberadaan di Bali merupakan kelebihan tersendiri. Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan belajar di pusat pariwisata dunia. Hal ini memberi pengalaman berbeda sekaligus memperkaya perspektif, terutama karena kehidupan sehari-hari bersinggungan langsung dengan industri pariwisata.

ㅤㅤㅤKeterkaitan antara jurusan pariwisata dan lingkungan sekitar juga sangat nyata. Baginya, apa yang dipelajari di kelas memiliki hubungan langsung dengan praktik di lapangan, sehingga proses belajar menjadi lebih relevan.

ㅤㅤㅤIa juga percaya bahwa menikmati masa muda dan menjaga akademik dapat berjalan beriringan. Kuncinya adalah memahami batasan dan tetap berpegang pada tujuan utama sebagai mahasiswa.

ㅤㅤㅤMeski demikian, tantangan seperti kemacetan tetap menjadi kendala. Untuk mengatasinya, ia membiasakan diri berangkat lebih awal agar tetap disiplin. Pada akhirnya, Kak Evan menegaskan bahwa kontrol diri adalah kunci agar mahasiswa tetap fokus, mampu mengelola peluang, dan tidak kehilangan arah.

ㅤㅤㅤBerada di tengah lingkungan pariwisata tidak selalu memberikan dampak negatif bagi mahasiswa. Hal tersebut disampaikan oleh I Gede Indra Budiarna selaku Ketua Umum HMJ Teknik Mesin. Menurutnya, lingkungan pariwisata justru dapat menjadi nilai tambah bagi mahasiswa, khususnya di Bali yang dikenal memiliki sektor pariwisata yang berkembang pesat dan beragam.

ㅤㅤㅤMahasiswa Jurusan Teknik Mesin Prodi D3 Teknik Mesin ini menilai bahwa keberadaan lingkungan pariwisata tetap relevan dengan bidang engineering. Infrastruktur perhotelan dan fasilitas penunjang pariwisata dinilai membutuhkan peran dunia teknik dalam proses pembangunan maupun pemeliharaannya. Oleh karena itu, mahasiswa teknik juga memiliki peluang besar untuk terlibat langsung dalam perkembangan sektor pariwisata di Bali.

ㅤㅤㅤMeski demikian, ia mengungkapkan bahwa terdapat beberapa hal yang masih perlu diperhatikan dalam lingkungan praktik perkuliahan, seperti suara mesin exhaust fan dan fresh air fan di Gedung PUT yang cukup bising. Selain itu, penempatan alat tersebut juga dinilai kurang nyaman dipandang. Namun, menurutnya pihak pemasang tentu telah mempertimbangkan berbagai aspek teknis dalam proses pemasangannya.

ㅤㅤㅤDalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di lingkungan pariwisata, ia percaya bahwa menikmati masa muda dan menjaga fokus akademik dapat berjalan beriringan. Keseimbangan tersebut dapat dijaga dengan tetap menjunjung etika dan saling menghormati lingkungan sekitar. Ia juga menilai tidak ada tantangan khusus yang terlalu memengaruhi kehidupan kampus meskipun berada di kawasan pariwisata.

ㅤㅤㅤDi akhir wawancara, ia menekankan pentingnya kontrol diri bagi setiap mahasiswa agar tidak kehilangan arah selama menjalani perkuliahan. Menurutnya, menjaga kualitas diri serta memiliki perencanaan masa depan menjadi langkah penting untuk tetap fokus dalam mengembangkan potensi diri di tengah dinamika lingkungan pariwisata. (nit, din, agn, tsy)

Daftar Komentar

Beri Komentar

*Email anda tidak akan kami tampilkan

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved