E-Mandiri

Menyapa Kembali Enzy Alora

Oleh @Anggi Wisudiantari

ㅤㅤㅤMalam itu, cahaya biru dari ponsel menerangi kamar tidurku yang remang dan sunyi. Jariku terus bergerak, melakukan scrolling sosial media tanpa henti. Dunia maya, semua orang yang ku lihat disana rasanya sangat menikmati hidupnya dan menjalankan hidupnya dengan baik. Aku tidak sengaja melihat unggahan teman seangkatanku, ia mengunggah sertifikat juara lomba dan banyak teman-temannya memberikan ucapan selamat. Aku ikut senang dan terharu melihat temanku sangat berbakat, ia pintar, cantik, dan sangat ekstrovert. Tanpa aku sadari di dalam hati, aku sedang membandingkan diri dengan temanku itu. Aku seakan-akan berbicara dalam hati "Keren ya dia, pintar, cantik. Dia juga bisa mengekspresikan dirinya dengan baik sampai bisa punya banyak teman, tapi aku?, aku bahkan bingung dengan diriku sendiri, aku tidak sebaik itu dalam mengekspresikan diri." 

ㅤㅤㅤHai, aku Enzy Alora Adisti. Aku menganggap diriku introvert sejati. Tapi, di hidup yang cuma sekali ini aku sedang mencoba membentuk diriku menjadi sang introvert yang berani keluar dari zona nyamannya yaitu malu berbicara, takut salah, dan takut akan penilaian orang lain terhadap diriku. Senin, 1 September 2023 di sore hari sepulang kuliah, aku duduk di depan meja belajar dengan earphone di telinga yang sudah memutar lagu dari playlist favoritku. Saat itu aku sedang tidak baik-baik saja, aku merasa energi ku habis terkuras setelah seharian menjadi makhluk sosial. “duhh capeekkk”, itu suara hati dan otakku yang selalu muncul saat energi sosialku sudah habis. 

ㅤㅤㅤAku hanya duduk bersila di kursi dan termenung mendengarkan lagu yang terus mengalun sambil menuliskan di jurnal harian ku apapun yang terlintas di otak saat itu. Meskipun aku terlihat diam, tapi otakku sangat ribut, rasanya banyak sekali suara-suara, terutama suara jahat yang mengutarakan kekuranganku, huftt. "Aku terlalu introvert deh kayaknya, bisa survive ga ya nanti di perkuliahan ini", "Aku kayaknya orang yang ngebosenin banget ya, ga kayak teman-teman lain yang bisa seceria itu", "Duh aku bakal punya sahabat ga ya dikampus kalo aku se-introvert ini", kurang lebih begitu lah isi pikiranku saat itu. Rasanya aku seperti berlari ditempat saat orang-orang lain bahkan sudah hampir mencapai finish

ㅤㅤㅤTiba-tiba salah satu lirik lagu Epiphany yang dinyanyikan Jin BTS membuat aku tersentak, aku seakan-akan diberikan tamparan. "I'm the one I should love in this world. bitnaneun nareul, sojungan nae yeonghoneul" (Akulah yang harus kucintai di dunia ini. Diriku yang bersinar, jiwaku yang berharga), lirik ini seakan menamparku, aku yang seharusnya menghargai diriku dan memeluk segala bentuk kelebihan maupun sisi lemah dalam diriku malah selalu membandingkan diri ini dengan pencapaian orang lain yang aku rasa lebih beruntung atau lebih keren dariku. Aku terdiam sejenak dengan tangan yang masih memegang pulpen, aku menikmati makna lagu itu dari setiap lirik yang disenandungkan. "Huftt, aku benci diriku yang introvert ini", lagi-lagi ini hanya suara hatiku. Entahlah, aku selalu berbicara di dalam hati, merasa lebih bisa mengekspresikan kekesalan ku di dalam hati dibandingkan harus mengeluarkannya langsung dengan kata-kata. 

ㅤㅤㅤBegitulah aku, terjebak di ekspektasi dan keinginan yang tinggi namun tidak punya rencana untuk mencapainya karena merasa diri ini sangat kurang dan terlalu malas untuk memulai. Hari sudah semakin larut, aku memutuskan untuk menyudahi journaling-ku dan bersiap tidur. Jujur saja saat itu aku tertidur dengan isi kepala yang masih sangat berantakan tapi mata ini sudah tidak mampu menahan rasa kantuk. 

ㅤㅤㅤ“Hei, kau itu tidak buruk. Kamu sempurna dengan semua kelebihan dan kekurangan mu.” Aku terdiam melihat sosok itu, aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Tapi kenapa dia berkata seperti itu kepadaku. Seolah-olah dia tahu semua yang sedang aku rasakan.  “Bagaimana bisa kau berkata begitu, aku bahkan tidak mengenal mu”, ucapku sedikit ketus kepada sosok putih itu. “Kau tidak mengenal ku?, padahal aku selalu bersama mu. Aku tahu apa yang sedang kau alami, aku tahu apa yang sedang kau rasakan. Aku selalu mencoba membantu mu tapi kau selalu mengabaikan ku”, ucapnya sambil tersenyum tipis. “Hah?, aku.. aku tidak mengerti maksud mu”, aku bertanya dengan sangat bingung.

ㅤㅤㅤSosok itu melangkah mendekat. Langkahnya tidak bersuara. Senyum tipisnya tidak pudar, justru semakin hangat, kontras dengan hawa dingin kamar yang sedari tadi mendekapku. “Aku adalah bagian dari dirimu yang selalu kau bungkam,” jawabnya lembut, sembari menyentuh dadanya sendiri. “Aku adalah keberanianmu yang kau sebut egois. Aku adalah mimpimu yang kau sebut mustahil. Dan aku adalah suara yang selalu berbisik ‘Ayo coba, jangan takut’ setiap kali kau ingin menyerah karena rasa malu dan takutmu.”

ㅤㅤㅤAku tertegun. Jantungku berdegup lebih kencang. “Tapi... kalau kau adalah bagian dari diriku, kenapa wujudmu sebersih ini?. Sedangkan aku... aku merasa sangat abu-abu, penuh keluhan, dan penakut.” Sosok putih itu terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat familiar di telingaku, itu suaraku, namun versi yang jauh lebih tenang. “Karena kau hanya melihat dirimu dari sudut pandang ekspektasimu yang terlalu tinggi,” ujarnya sembari duduk di tepi tempat tidurku, menatapku lurus. “Kau benci dirimu yang introvert, padahal lewat dunia dalam hatimu itu, kau bisa merasakan empati yang mendalam. Kau bilang kau malas, padahal kau hanya sedang lelah dan takut gagal sebelum melangkah. Kau terlalu keras pada dirimu sendiri.”

ㅤㅤㅤMata ku berkaca-kaca, air mataku tiba-tiba luruh tanpa bisa dicegah. Kata-katanya menusuk tepat di ulu hati. Segala kekesalan yang biasanya aku pendam di dalam hati, mendadak menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menuntut untuk dilepaskan. “Lalu aku harus bagaimana?” bisikku, suaraku bergetar. “Aku punya banyak keinginan, tapi aku selalu merasa tidak mampu.”

ㅤㅤㅤSosok putih itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang bercahaya redup ke arahku. “Berhenti membuat rencana yang sempurna, dan mulailah membuat satu langkah yang nyata. Tidak perlu langsung melompat, cukup melangkah kecil hari ini. Mulai sekarang, bicaralah padaku, pada dirimu sendiri, dengarkan dan ikuti kata hati mu yang selalu ingin kau melangkah, berhenti berikan dia makian. Maukah kau berteman lagi denganku?” ucapnya dengan senyum tulus itu.  Aku menatap uluran tangan itu. Untuk pertama kalinya, suara di dalam hatiku tidak lagi berisi keluhan atau kebencian. Perlahan, aku mengangkat tanganku, menyambut jemarinya. Saat kulit kami bersentuhan, sosok itu perlahan memudar, melebur masuk ke dalam dadaku, meninggalkan rasa hangat yang sudah lama tidak aku rasakan.

ㅤㅤㅤAku terbangun dari tidurku, jam menunjukkan pukul 6 pagi. Aku duduk diatas kasur ku sambil termenung, mencerna apa yang aku alami semalam, pikir ku itu kenyataan ternyata aku hanya bermimpi. Tapi kenapa rasanya sangat nyata, apakah ini uluran tangan dari Tuhan untuk ku?. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap kamarku yang sepi. Sosok itu sudah hilang, tapi kehadirannya kini nyata di dalam diriku. “Oke,” bisikku pada diri sendiri, kali ini tersenyum. “Mari kita mulai dari hal kecil hari ini.”

ㅤㅤㅤMencoba memulai pagiku dengan santai dan tidak tergesa-gesa. Pagi itu, Selasa, 2 September 2023 aku menata kembali diriku yang selama ini cukup berantakan, dimulai dari memperbaiki rutinitas pagiku, sesederhana merapikan tempat tidur dan memberikan senyuman pada pantulan diriku di cermin. 

ㅤㅤㅤSejak hari itu, aku mulai merasakan diriku hadir dimasa kini tanpa terburu-buru ingin mengikuti langkah orang lain. Aku berjalan pada rute dan kecepatan ku sendiri, menikmati setiap keputusan dan kesempatan yang aku ambil dalam hidupku. Pola pikirku mulai berubah, tadinya iri dengan pencapaian orang lain, namun sekarang aku lebih tenang dan turut bangga melihat pencapaian orang sekitarku. Aku sudah tidak merasa tertinggal lagi, karena sebetulnya yang patut kita buat kagum adalah diri sendiri bukan orang lain. Meskipun perlahan, aku merasa hidupku saat ini jauh lebih bisa dinikmati dan selalu ada euphoria yang aku rasakan di setiap aktivitas ku. 

ㅤㅤㅤUntuk diri ini, terima kasih sudah tidak menyerah, terima kasih sudah selalu berjalan walau lambat, terima kasih sudah mau kembali berteman dengan dirisendiri. Layar ponselku mungkin akan terus menyala menampilkan ratusan pencapaian orang lain di luar sana. Namun, aku tidak akan lagi merasa redup. Di kamar yang sunyi ini, aku akhirnya tahu bahwa aku tidak sedang berlari di tempat. Aku sedang melangkah, di atas jalanku sendiri, dengan kecepatan yang kini terasa jauh lebih damai. Aku tersenyum pada bayanganku di cermin. Enzy Alora, mari kita bertualang lebih jauh lagi. 

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved