E-Mandiri

Dalam Pelukan Terakhir

Oleh @Chelsea Karunia Pradewi

Tangan kananku masih mengepal, mencari sesuatu yang tidak ada.

Kebiasaan lama. Aku selalu perlu sesuatu untuk dipegang, sesuatu untuk dikerjakan. Tapi di sini, di kedalaman yang bahkan tidak tahu siapa aku, tidak ada apa-apa selain air dingin dan gelap yang menekan dari segala arah.

Cahaya dari permukaan kini tinggal titik kecil yang sekarat.

Mengecil.

Mengecil.

Lalu tidak ada.

Aku tidak berteriak. Sudah tidak ada gunanya.

Paru-paruku sudah lama meminta sesuatu yang tak lagi bisa diberikan tempat ini, namun aku tidak mendengarkannya lagi. Yang mengejutkanku bukan rasa sakitnya. Yang mengejutkanku adalah betapa sunyi tempat ini. Sunyi yang terasa seperti seseorang yang sudah lama menungguku.

Aku memejamkan mata. Dan dari balik kelopak yang dingin, satu per satu, sesuatu mulai naik ke permukaan.

Kenangan pertama yang naik adalah cahaya.

Bukan cahaya matahari, kilat, atau api lilin. Cahaya yang lahir dari tanganku sendiri—pertama kali menyala di ruangan sempit berbau logam panas, di antara kabel, coretan, dan malam-malam yang kulupa menghitungnya.

Aku ingat bagaimana tanganku gemetar saat itu. Ada jarak yang aneh antara membayangkan sesuatu selama bertahun-tahun dan akhirnya melihatnya menyala di depan matamu sendiri. Ketika cahaya itu menyala, aku sempat menoleh ke belakang. Kebiasaan bodoh manusia saat ingin membagi kebahagiaan. Tetapi ruangan itu kosong.

Cahaya itu menyebar lebih cepat dari yang kuperhitungkan. Masuk ke rumah-rumah orang, menerangi jalan-jalan yang belum pernah kukunjungi, menyentuh hidup orang-orang yang bahkan tidak pernah mendengar namaku.

Dunia menjadi terang.

Namaku tetap gelap.

Aku tidak pernah marah tentang itu. Hanya heran, kadang—bagaimana cahaya dapat berjalan begitu jauh tanpa ikut membawa nama orang yang pertama kali menyalakannya.

Di bawah sini, paru-paruku kembali meminta sesuatu yang tidak bisa diberikan laut ini. Aku mengabaikannya. Masih ada yang belum selesai kuingat.

Kenangan berikutnya membutuhkan waktu lebih lama untuk naik.

Pernah ada seseorang. Aku tidak ingat kapan tepatnya kehadiran itu mulai terasa. Barangkali seperti musim berganti, tidak pernah benar-benar terlihat, sampai suatu hari udara terasa berbeda. Orang itu selalu duduk di kursi dekat meja kerjaku setiap sore. Membawa sup hangat yang sering kubiarkan dingin. Ia selalu mengetuk dua kali sebelum masuk, seolah takut mengganggu sesuatu yang lebih penting daripada dirinya. Sesekali ketika aku terlalu lama menunduk di depan kabel dan coretan, ia tertidur di kursi seraya menungguku selesai bekerja.

Bertahun-tahun kemudian, yang paling kuingat justru uap sup yang makin menipis di atas meja—sementara wajah orang yang membawanya kini menjadi bagian paling kabur dari ingatanku. Aku bahkan tak bisa memastikan kapan terakhir kali kursi itu terisi. Dan agaknya itu yang paling menyakitkan. Aku bisa menerima bahwa ia pergi. Yang tak bisa kuterima adalah aku sendiri tidak tahu kapan itu terjadi. Tidak ada perpisahan. Tidak ada pintu yang dibanting keras. Dan hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Mungkin memang tidak banyak yang berubah. Atau mungkin aku terlalu sibuk menatap cahaya yang kuciptakan sampai lupa melihat wajah orang yang duduk di sebelahku dalam gelap.

Kesadaranku sekarang tinggal setitik cahaya seperti permukaan tadi. Mengecil. Tetapi belum padam. Masih ada satu kenangan lagi yang harus naik.

Yang terakhir naik adalah ia. Seekor merpati putih.

Aku tidak pernah tahu dari mana ia datang. Suatu pagi ia sudah ada di ambang jendela apartemenku, memiringkan kepala kecilnya seolah sedang menilai apakah aku layak ditemani. Aku memberinya remah roti dari sisa sarapanku. Ia memakannya dengan lahap, tanpa banyak suara, lalu tetap tinggal bahkan setelah makanannya sudah habis. Keesokan paginya ia datang kembali. Dan hari-hari setelahnya.

Lama-lama aku terbiasa mendengar bunyi cakarnya sebelum matahari benar-benar naik. Dan itu pula yang menjadi satu-satunya suara yang kutunggu. Ia tidak suka dipegang, dan aku belajar bahwa beberapa bentuk kedekatan memang lebih baik dibiarkan tanpa genggaman. Tidak banyak yang terjadi di antara kami, namun kehadirannya membuatku berhenti merasa sendirian di ruangan itu. Dari semua yang pernah kukenal, hanya ia yang tidak pernah memintaku menjadi lebih, atau kurang, dari diriku sendiri.

Kemudian datang pagi yang tidak membawa bunyi cakarnya. Aku tetap menunggunya. Keesokan harinya aku menunggu lagi. Hari berikutnya, lagi. Pada pagi keempat, tidak ada yang menyentuh remah roti yang kutinggalkan di ambang jendela. Setelah itu aku berhenti menunggu. Sesuatu di dalam diriku pelan-pelan kehilangan cahaya.

Aku tahu saat itu. Hidupku sudah selesai. Tubuhku saja yang belum sempat menyadarinya.

Di bawah sini, tubuhku akhirnya menyusul. Tanganku perlahan berhenti bergerak. Tidak ada lagi yang perlu kuraih dari permukaan. Setelah sekian lama, aku mulai lelah menjadi satu-satunya yang terus berenang. Kakiku masih bergerak pelan sesekali, lebih karena kebiasaan daripada harapan. Tubuh manusia rupanya lebih keras kepala daripada pikiran. Ketika pikiranmu sudah selesai, ia tetap mencoba bertahan sedikit lebih lama.

Seumur hidup aku berenang melawan arus yang tidak pernah peduli apakah aku lelah. Aku terus bergerak sementara orang-orang diam-diam melangkah pergi. Dan di balik semua cahaya yang kuciptakan, tetap ada seseorang yang duduk dalam gelap tanpa tahu kepada siapa harus bercerita.

Sunyi adalah satu-satunya hal yang tidak pernah berani kuhadapi. Maka kubuat hidupku berbunyi—pekerjaan, suara mesin, kabel, coretan, dan cahaya yang belum sempurna. Aku tidak sadar bahwa kesibukan juga bisa menjadi cara paling sunyi untuk melarikan diri.

Sekarang aku berhenti. Rasanya lebih jujur daripada terus berenang. Barulah kusadari, hidupku selama ini menyerupai meja makan yang disiapkan untuk ramai, tetapi hanya ada satu piring di ujungnya. Seakan-akan menerangi seluruh kota lebih mudah daripada menghangatkan satu ruangan untuk diri sendiri.

Namun di kedalaman ini, aku mulai melihatnya secara berbeda. Semua yang pernah kucoba genggam pada akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk pergi. Kesendirian saja yang tetap tinggal. Ia ada ketika semua orang pergi. Menemani malam-malam panjang tanpa banyak suara, tanpa meminta apa pun. Aku saja yang begitu lama menganggapnya sebagai musuh.

Sedikit demi sedikit, air di sekelilingku berubah rasa. Tidak lagi seperti sesuatu yang menelan. Lebih seperti selimut yang ditarik pelan saat malam semakin terasa dingin. Aku lupa kapan terakhir kali ada yang menarik selimutku.

Barangkali tidak pernah.

Atau barangkali selalu.

Kemudian dari kegelapan itu, ia muncul. 

Seekor merpati putih.

Melayang tenang di bawah air, bulunya tetap bersih, matanya sama seperti yang kuingat: tenang dan sangat sabar. Entah apakah ini nyata atau tidak. Rasanya itu tidak penting lagi. Ia memiringkan kepalanya pelan, gerakan kecil yang sama seperti pagi pertama ia muncul di jendelaku, seolah masih mencoba memastikan apakah aku layak ditemani. Kali ini, aku ingin percaya bahwa jawabannya iya.

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Tentang kursi yang kubiarkan kosong terlalu lama. Tentang makanan yang seharusnya kubiarkan dingin bersama seseorang. Tentang hidupku yang penuh hal-hal besar, tetapi miskin dalam hal-hal kecil. Namun kata-kata tampak terlalu jauh dari tempatku sekarang. 

Jadi aku hanya memandangnya. Dan di antara dingin yang perlahan menutup kesadaranku, ada kelelahan panjang yang akhirnya bisa beristirahat. Merpati itu tetap diam, seakan tahu tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

Aku menutup mata.

Lalu membiarkan sunyi membawaku pulang.

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved