Politeknik Negeri Bali (PNB) memiliki banyak dosen muda berbakat, namun salah satu yang paling mencuri perhatian adalah I Gusti Ngurah Agung Aditya Pramana. Dosen Jurusan Administrasi Bisnis ini sempat menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan staf, bukan karena sensasi, melainkan karena ketenarannya sebagai kreator konten profesional.
Sebelum menapaki karier sebagai dosen, Pak Adit sapaan akrabnya, telah dikenal luas di dunia digital. Ia memegang sertifikasi resmi sebagai Content Creator dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), bukti kompetensinya di bidang editing dan produksi konten kreatif. Tak hanya aktif di dunia digital, beliau juga sering diundang menjadi pengajar dan narasumber di berbagai instansi pemerintahan, komunitas, maupun lembaga pendidikan lainnya. Dedikasi ini menunjukkan komitmennya untuk membantu masyarakat agar mampu berkarya di media sosial sesuai minat dan bakat masing-masing.
“Inspirasinya datang dari om saya, yang kebetulan merupakan dosen di Teknik Elektro PNB,” ungkap Pak Adit ketika menceritakan alasan memilih profesi pendidik. Sejak remaja, ia sering melihat sosok sang paman yang berwibawa dengan pakaian resminya. Dari sanalah muncul keinginan untuk suatu hari menjadi seperti beliau. Meski sempat mengeksplor berbagai bidang dan memiliki banyak impian, masa pandemi menjadi titik balik yang mengembalikannya pada impian awalnya yakni menjadi seorang dosen. Dalam keterbatasan, ia justru menemukan cara untuk tetap bekerja, beradaptasi, dan bertahan di situasi sulit. "Setiap orang itu punya jalannya masing-masing, dan berbagi itu nggak akan bikin miskin,” ujarnya.
Namun, perjalanan menuju sukses tidak mulus. Tiga kali gagal dalam seleksi CPNS di tempat berbeda, tapi ia tidak menyerah. Pada kesempatan keempat, ia akhirnya berhasil menyandang gelar ASN dengan skor tertinggi, yang membuka jalannya menjadi dosen di Jurusan Administrasi Bisnis dengan berfokus pada Program Studi Bisnis Digital.
Menjadi seorang dosen sekaligus kreator konten tentu bukan hal yang mudah. Tantangan utamanya terletak pada konsistensi dan manajemen waktu. Mengajar dari pagi hingga sore hari, lalu melanjutkan proses editing dan produksi konten di malam hari, kerap kali menguras tenaga. “Kalau capek, istirahat sebentar boleh, tapi jangan berhenti terlalu lama,” ujarnya tegas.
Menurutnya, kunci produktivitas adalah pengelolaan jadwal, catatan yang rapi, serta strategi menyiapkan ‘bank konten’. Ia percaya bahwa kelelahan dan rasa ingin menyerah adalah hal manusiawi, namun yang terpenting adalah mengingat kembali tujuan awal dan tidak berlama-lama terjebak dalam healing. Ia percaya bahwa keputusan terbaik lahir ketika pikiran tenang, sehingga jeda sejenak justru membentuk kekuatan.
Di tengah dunia digital yang bising, Pak Adit menekankan pentingnya keberanian untuk berbeda, beradaptasi, dan mengambil risiko. Ia percaya bahwa keberbedaan bukanlah kelemahan, melainkan keunggulan. “Berbedalah, maka kamu akan terlihat. Dengan menjadi terlihat, kamu akan menonjol, lebih mudah dilirik, dan akan terbuka kesempatan-kesempatan besar yang sebelumnya tak pernah terbayangkan,” tegasnya.
Menutup sesi wawancara, beliau menyampaikan harapan agar muncul “The Next Content Creator Edukasi” dari Bali, generasi kreatif yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bijak di tengah derasnya arus informasi. Apalagi kini teknologi sudah sangat memadai, namun banyak masyarakat yang masih mudah termakan berita hoaks dan diadu domba. Ia berharap akan semakin banyak kreator edukatif yang hadir membawa dampak positif bagi masyarakat, sekaligus menjadi contoh bahwa media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan inspirasi. (nms,ptr,ist,bnr,nrw)
Menjadi mahasiswa merupakan fase penting yang penuh dinamika. Pada tahap...
Di era serba produktif, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara...
Politeknik Negeri Bali (PNB) memiliki banyak dosen muda berbakat, namun...
I Gede Odie Arya Prihantara, mahasiswa D4 Akuntansi Perpajakan Politeknik...
Menjadi mahasiswa di era penuh tuntutan bukanlah hal yang mudah....
Di era digital, persoalan keuangan kerap menjadi tantangan bagi generasi...
Di tengah dinamika aktivitas kampus, sebuah wajah baru hadir dan...
Produktivitas seringkali disalahartikan sebagai kesibukan tanpa henti. Padahal produktif berarti...
Politeknik Negeri Bali (PNB) memiliki banyak dosen muda berbakat, namun salah satu yang paling mencuri perhatian adalah I Gusti Ngurah Agung Aditya Pramana. Dosen Jurusan Administrasi Bisnis ini sempat menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan staf, bukan karena sensasi, melainkan karena ketenarannya sebagai kreator konten profesional.
Sebelum menapaki karier sebagai dosen, Pak Adit sapaan akrabnya, telah dikenal luas di dunia digital. Ia memegang sertifikasi resmi sebagai Content Creator dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), bukti kompetensinya di bidang editing dan produksi konten kreatif. Tak hanya aktif di dunia digital, beliau juga sering diundang menjadi pengajar dan narasumber di berbagai instansi pemerintahan, komunitas, maupun lembaga pendidikan lainnya. Dedikasi ini menunjukkan komitmennya untuk membantu masyarakat agar mampu berkarya di media sosial sesuai minat dan bakat masing-masing.
“Inspirasinya datang dari om saya, yang kebetulan merupakan dosen di Teknik Elektro PNB,” ungkap Pak Adit ketika menceritakan alasan memilih profesi pendidik. Sejak remaja, ia sering melihat sosok sang paman yang berwibawa dengan pakaian resminya. Dari sanalah muncul keinginan untuk suatu hari menjadi seperti beliau. Meski sempat mengeksplor berbagai bidang dan memiliki banyak impian, masa pandemi menjadi titik balik yang mengembalikannya pada impian awalnya yakni menjadi seorang dosen. Dalam keterbatasan, ia justru menemukan cara untuk tetap bekerja, beradaptasi, dan bertahan di situasi sulit. "Setiap orang itu punya jalannya masing-masing, dan berbagi itu nggak akan bikin miskin,” ujarnya.
Namun, perjalanan menuju sukses tidak mulus. Tiga kali gagal dalam seleksi CPNS di tempat berbeda, tapi ia tidak menyerah. Pada kesempatan keempat, ia akhirnya berhasil menyandang gelar ASN dengan skor tertinggi, yang membuka jalannya menjadi dosen di Jurusan Administrasi Bisnis dengan berfokus pada Program Studi Bisnis Digital.
Menjadi seorang dosen sekaligus kreator konten tentu bukan hal yang mudah. Tantangan utamanya terletak pada konsistensi dan manajemen waktu. Mengajar dari pagi hingga sore hari, lalu melanjutkan proses editing dan produksi konten di malam hari, kerap kali menguras tenaga. “Kalau capek, istirahat sebentar boleh, tapi jangan berhenti terlalu lama,” ujarnya tegas.
Menurutnya, kunci produktivitas adalah pengelolaan jadwal, catatan yang rapi, serta strategi menyiapkan ‘bank konten’. Ia percaya bahwa kelelahan dan rasa ingin menyerah adalah hal manusiawi, namun yang terpenting adalah mengingat kembali tujuan awal dan tidak berlama-lama terjebak dalam healing. Ia percaya bahwa keputusan terbaik lahir ketika pikiran tenang, sehingga jeda sejenak justru membentuk kekuatan.
Di tengah dunia digital yang bising, Pak Adit menekankan pentingnya keberanian untuk berbeda, beradaptasi, dan mengambil risiko. Ia percaya bahwa keberbedaan bukanlah kelemahan, melainkan keunggulan. “Berbedalah, maka kamu akan terlihat. Dengan menjadi terlihat, kamu akan menonjol, lebih mudah dilirik, dan akan terbuka kesempatan-kesempatan besar yang sebelumnya tak pernah terbayangkan,” tegasnya.
Menutup sesi wawancara, beliau menyampaikan harapan agar muncul “The Next Content Creator Edukasi” dari Bali, generasi kreatif yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bijak di tengah derasnya arus informasi. Apalagi kini teknologi sudah sangat memadai, namun banyak masyarakat yang masih mudah termakan berita hoaks dan diadu domba. Ia berharap akan semakin banyak kreator edukatif yang hadir membawa dampak positif bagi masyarakat, sekaligus menjadi contoh bahwa media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan inspirasi. (nms,ptr,ist,bnr,nrw)
Putri Novita
Menginspirasi sekaliiiii❤️